BIRRUL WALIDAIN
BIRRUL
WALIDAIN
Kita tahu bersama inti dari Islam adalah tauhid, yaitu
mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata.
Tauhid adalah yang pertama dan utama bagi
seorang muslim. Dan banyak ayat di dalam Al Qur’an, perintah untuk berbakti
kepada orang tua disebutkan setelah perintah untuk bertauhid.
Ini menunjukkan bahwa masalah birrul walidain adalah masalah
yang sangat urgen, mendekati pentingnya tauhid bagi seorang muslim.
Pengertian dan
hukum birrul walidain berdasarkan Al-Quran dan sunnah
Birrul walidain artinya berbakti kepada orang tua. Birrul
walidain adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi
seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar
memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun yang utama adalah
dalam rangka menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).
Ayat
lain,
قُلْ
تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ
شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepada
kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..” (QS. Al An’am: 151).
Ayat lain,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا
تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya” (QS.
Al Isra: 23).
Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu:
أيُّ
العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟
قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ
اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي
“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”.
Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa
lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu
apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan,
andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul
walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya,
sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari
perintah adalah wajib.
Keutamaan birrul walidain
1. Lebih
utama dari jihad fiisabililah
Sebagaimana hadits Abdullah bin Mas’ud,
tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam untuk pergi berjihad, beliau bersabda:
أحَيٌّ والِدَاكَ؟، قَالَ:
نَعَمْ، قَالَ: فَفِيهِما فَجَاهِدْ
“Apakah orang tuamu masih hidup?”. Lelaki tadi menjawab:
“Iya”. Nabi bersabda: “Kalau begitu datangilah kedunya dan berjihadlah dengan
berbakti kepada mereka”. (HR.
Bukhari dan Muslim).
Namun para ulama memberi catatan, ini berlaku bagi jihad yang
hukumnya fardhu kifayah. Demikian juga birrul walidayn lebih utama dari semua
amalan yang keutamaannya di bawah jihad fi sabiilillah.
2. Lebih utama dari mencari ilmu
Birrul walidayn juga lebih utama dari thalabul ilmi selama
bukan menuntut ilmu yang wajib ‘ain, birrul walidain juga lebih utama dari
safar selama bukan safar yang wajib seperti pergi haji yang wajib. Adapun safar
dalam rangka mencari pendapatan maka tentu lebih utama birrul walidain
dibandingkan safar yang demikian.
3. Salasatu jalan pembuka pintu
surga
Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya
adalah pintu birrul walidain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك
البابَ أو احفَظْه
“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang
paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika
kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini
shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.914).
4.
Birrul Walidayn adalah salah
satu cara ber-tawassul kepada Allah
Tawassul
artinya mengambil perantara untuk menuju kepada ridha Allah dan pertolongan
Allah. Salah satu cara bertawassul yang disyariatkan adalah tawassul dengan
amalan shalih. Dan diantara amalan shalih yang paling ampuh untuk bertawassul
adalah birrul walidain. Sebagaimana hadits dalam Shahihain mengenai
kisah yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengenai
tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar, kemudian mereka
bertawassul kepada Allah dengan amalan-amalan mereka, salah satunya berkata: “Ya
Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga
memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala
ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu
dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku
harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku
dapati orang tuaku sudah tidur. Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana
biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di
sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka. Dan aku pun enggan
memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah
meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya
hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi
mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit
dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat me reka bisa
melihat langit darinya“. (HR. Bukhari-Muslim).
Kedudukan birrul
walidayn yang diutamakan
Dari Mu’awiyah
bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada
Nabi:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ
، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ
، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak
aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi
menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi
menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad,
sanadnya hasan).
Fadhlullah Al Jilani, ulama
India, tentang hadits ini: “ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma
dalam perbuatan baik, karena dalam hadits ini bagi ibu ada 3x kali bagian dari
yang didapatkan ayah. Hal ini karena kesulitan yang dirasakan ibu ketika hamil,
bahkan terkadang ia bisa meninggal ketika itu. Dan penderitaannya tidak
berkurang ketika ia melahirkan. Kemudian cobaan yang ia alami mulai dari masa
menyusui hingga anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri. Ini hanya
dirasakan oleh ibu”.
Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ
اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ
“sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian
untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada
kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat
kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang
dekat” (HR. Ibnu
Majah, shahih dengan syawahidnya).
Dari Atha bin Yassar, ia berkata:
عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ
امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها
فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ :
تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ
عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ
إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ
“Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang
kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang
wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang
melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan
membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas
menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah
meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah
dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku
(Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang
ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang
paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad,
sanadnya shahih).
1. Berkata-kata
dengan sopan dan penuh kelembutan, dan jauhi perkataan yang menyakiti hati
mereka
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا
إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا
أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا
قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika
salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan yang mulia” (QS. Al Isra: 23).
Ibnu Katsir menjelaskan
tentang ayat:
[فَلَا تَقُلْ
لَهُمَا أُفٍّ]
أي لا تسمعهما قولا سيئا حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى
مراتب القول السيئ
“Maksudnya jangan memperdengarkan kepada orang tua, perkataan yang
buruk. Bahkan sekedar ah yang ini merupakan tingkatan terendah dari perkataan
yang buruk” (Tafsir Ibnu Katsir).
2. Bersikap tawadhu’ kepada orang tua dan
sikapilah mereka dengan penuh kasih sayang
Allah Ta’ala berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan
dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (QS. Al Isra: 24).
3. Tidak memandang orang tua dengan
pandangan yang tajam, tidak bermuka masam atau wajah yang tidak menyenangkan
4. Tidak meninggikan suara
ketika berbicara dengan orang tua
Dalil kedua adab di atas adalah hadits Al
Musawwir bin Makhramah mengenai bagaimana adab para Sahabat Nabi terhadap Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam, disebutkan di dalamnya:
وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما
يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له
“jika para sahabat berbicara dengan
Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam
sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari 2731).
Syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan:
“setiap adab di atas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa adab-adab tersebut
merupakan sikap penghormatan”.
5. Tidak mendahului
mereka dalam berkata-kata
Dari Abdullah bin Umar
radhiallahu’anhu beliau berkata:
كنَّا عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فأتيَ
بِجُمَّارٍ، فقالَ: إنَّ منَ الشَّجرةِ شجَرةً، مثلُها كمَثلِ المسلِمِ ، فأردتُ
أن أقولَ: هيَ النَّخلةُ، فإذا أنا أصغرُ القومِ، فسَكتُّ، فقالَ النَّبيُّ صلَّى
اللهُ عليْهِ وسلَّمَ: هيَ النَّخلةُ
“kami pernah bersama Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah
pohon yang ia merupakan permisalan seorang Muslim’. Ibnu Umar berkata: ‘sebetulnya
aku ingin menjawab: pohon kurma. Namun karena ia yang paling muda di sini maka
aku diam’. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberi tahu jawabannya
(kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma'” (HR. Al Bukhari 82, Muslim
2811).
Ibnu Umar melakukan demikian karena adanya
para sahabat lain yang lebih tua usianya walau bukan orang tuanya. Maka tentu
adab ini lebih layak lagi diterapkan kepada orang tua.
6. Dakwahi mereka kepada agama yang benar
Allah Ta’ala berfirman:
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ
صِدِّيقًا نَبِيًّا إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا
يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ
جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا
سَوِيًّا يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ
لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ
الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا
“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim
di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat
membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya;
“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya
telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu,
maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku
khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu
menjadi kawan bagi syaitan”” (QS. Maryam: 41-45).
7. Jagalah
kehormatan mereka
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma,
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ
دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي
شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian
(untuk ditumpakan) dan harta kalian (untuk dirampais) dan kehormatan (untuk
dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri
ini” (HR. Bukhari).
8. Berikan pelayanan-pelayanan kepada orang tua dan
bantulah urusan-urusannya
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
المسلمُ أخو المسلمِ ، لا يَظْلِمُه ولا
يُسْلِمُه ، ومَن كان في حاجةِ أخيه كان اللهُ في حاجتِه ، ومَن فرَّجَ عن مسلمٍ
كربةً فرَّجَ اللهُ عنه كربةً مِن كُرُبَاتِ يومِ القيامةِ ، ومَن ستَرَ مسلمًا
ستَرَه اللهُ يومَ القيامةِ
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh
menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya dalam bahaya. barangsiapa yang
memenuhi kebutuhan saudaranya sesama Muslim, maka Allah akan penuhi kebutuhannya.
barangsiapa yang melepaskan saudaranya sesama Muslim dari satu kesulitan, maka
Allah akan melepaskan ia dari satu kesulitan di hari kiamat. barangsiapa yang
menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kiamat” (HR. Al
Bukhari no. 2442)
9. Jawablah panggilan mereka dengan segera
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda:
فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًٍا فَقَالَتْ: يَا
جُرَيْجُ! وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ – وَهُوَ يُصَلِّي – أُمِّي وَصَلاَتِي؟
فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي
نَفْسِهِ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَتْ
بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ.
فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ: لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ! حَتىَّ
تَنْظُرَ فِي وَجْهِ المُوْمِسَاتِ
“Suatu hari datanglah ibu Juraij dan
memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai
Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi
panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya.
Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di
dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya
memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau
shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak
menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai
Juraij sampai engkau melihat wajah pelacur” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul
Mufrad, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Adabil Mufrad).
10. Jangan menganggu mereka di waktu mereka
istirahat
11. Jangan berbohong kepada mereka
Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam
bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ؛ فَإِنَّ الصِّدْقَ
يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ
الرَّجُلَ يَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ
وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَالْفُجُورَ يَهْدِي
إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتب عند الله كذاباً
“Wajib bagi kalian untuk berlaku jujur.
Karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga.
Seseorang yang senantiasa jujur, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai Shiddiq
(orang yang sangat jujur). Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada
perbuatan fajir (maksiat) dan perbuatan fajir membawa ke neraka. Seseorang yang
sering berdusta, akan di tulis di sisi Allah sebagai kadzab (orang yang sangat
pendusta)” (HR. Muslim no. 2607).
12.
Sering-seringlah mengunjungi mereka
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ،
فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ
؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها
؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ
اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ
“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi
saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di
tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau
mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”.
Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan
darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya
karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku
diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu
sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567).
Saling mengunjungi sesama Muslim sangat
besar keutamaannya, lebih lagi jika yang dikunjungi adalah orang tua.
13. Jika ingin meminta sesuatu kepada
mereka, mintalah dengan lemah lembut
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda:
لَا تُلْحِفُوا فِي الْمَسْأَلَةِ،
فَوَاللهِ، لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا، فَتُخْرِجَ لَهُ
مَسْأَلَتُهُ مِنِّي شَيْئًا، وَأَنَا لَهُ كَارِهٌ، فَيُبَارَكَ لَهُ فِيمَا
أَعْطَيْتُهُ
“Jangan kalian memaksa jika meminta. Demi
Allah, jika seseorang meminta kepadaku sesuatu, kemudian aku mengabulkan
permintaannya tersebut dengan perasaan tidak senang, maka tidak ada keberkahan
pada dirinya dan apa yang ia minta itu” (HR. Muslim no. 1038).
Meminta kepada orang lain dengan memaksa
adalah akhlak yang buruk, lebih lagi jika yang diminta adalah orang tua.
Durhaka terhadap kedua orang tua merupakan
diantara dosa besar
Secara tegas dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam:
أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ
، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ
“dosa-dosa besar yang paling besar adalah:
syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta
atau sumpah palsu” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).
Dalam hadits Nafi’ bin Al
Harits Ats Tsaqafi, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا
: بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ
“maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari dan Muslim).


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda